Tentang Stress (2): Mengenal Non-work-related Stressor
Berikut adalah penyebab-penyebab stress yang tidak berkaitan dengan pekerjaan. Perlu diwaspadai karena mereka adalah membawa pengaruh yang besar dan kritikal dalam hidup kita.
Rumah dan keluarga. Tidak bisa dipungkiri rumah adalah tempat kita tinggal dan berlindung bersama dengan keluarga. Idealnya, dalam satu rumah adalah tempat satu keluarga yang harmonis, yang saling mengasihi dan menyuport satu sama lain. Meski demikian kehidupan keluarga justru menjadi sumber stress yang jauh lebih berat ketimbang stress lain seperti di tempat pekerjaan. Mengapa demikian? Karena keluarga adalah kehidupan kita, bagian dari tubuh, jiwa, dan rohani kita sebagai manusia. Hubungan dalam keluarga adalah hal paling berharga yang memerlukan usaha super keras untuk membinanya.
Stressor dalam rumah dan keluarga sangatlah beragam. Belum tentu keluarga yang dipimpin dan di-manage dengan baik terbebas dari tekanan dengan sendirinya. Kepergian salah satu anggota bisa menjadi tekanan yang berat bagi keluarga yang ditinggalkan. Konflik suami-istri, dari tingkatan paling sepele hingga yang paling kompleks, tidak hanya menguras energi masing-masing namun juga berpengaruh pada kestabilan mental anak-anaknya. Perjuangan untuk memenuhi setiap kebutuhan hidup adalah tantangan harian yang harus dipecahkan oleh kepala keluarga. Masih banyak penyebab stress negatif dalam keluarga yang harus dicari solusinya.
Tidak selalu mudah untuk menyeimbangkan kehidupan di rumah dan di pekerjaan. Tekanan pada satu sisi bisa mempengaruhi performa kita di sisi lainnya. Meski demikian biasanya seseorang yang memiliki kehidupan yang harmonis dan stabil di rumah, ia memiliki performa bagus saat bekerja. Demikian juga sebaliknya, saat ia ‘feels good’ dalam pekerjaannya, ia akan mengimpartasikannya kepada keluarganya.
Keuangan. Sebenarnya antara keuangan dan keluarga masih sangat berkaitan dalam konteksnya sebagai stressor. Kebanyakan tekanan dalam keluarga berhubungan langsung dengan kondisi keuangan mereka. Kekurangan uang dapat membuat keluarga hancur. Kelebihan uang pun, apabila tidak bijak mengelolanya, dapat merusak hubungan dalam keluarga. Banyak orang yang overwork dengan dalih untuk mencukupi kebutuhan keluarga, mengabaikan waktu yang berharga untuk bersama anak dan pasangan mereka. Lagi, upaya menyeimbangkan hal ini merupakan sumber stress tersendiri. Bagi yang mengalami ini sangat disarankan untuk belajar mengatur keuangan mereka dengan seksama dan mencari bantuan; misalnya dari membaca buku tentang personal finance maupun konsultasi dengan financial planner. Bagi yang sudah ‘bebas’ secara finansial, sebaiknya harus terus belajar untuk mengelola aset anda sehingga bisa menjadi berkat bagi banyak orang.
Siklus Hidup. Masa pubertas bagi remaja, memasuki lingkungan baru, masa persiapan pensiun - yang efeknya adalah post-power syndrome, menopause, datang bulan, dan siklus hidup kita lainnya dapat mengakibatkan stress. Salah satu kuncinya adalah mengenali terjadinya perubahan siklus hidup kita, sehingga kita bisa melakukan persiapan dan antisipasi. Jadi saat masa itu tiba kita sudah well-prepared dan legowo dalam menghadapinya.
Kesepian. Mengapa kesepian bisa menjadi stressor? Ingat, sepi tidak sama dengan sunyi. Kesepian lebih diasosiasikan dengan perasaan yang terjadi di dalam diri dan hati kita. Kita bisa merasakan kesepian di tengah ramainya sekeliling kita.
Memiliki hubungan yang sehat adalah satu-satunya cara mengusir kesepian. Bagi yang sudah menikah, meski adu argumentasi suami istri adalah stressor juga, namun dalam jangka panjang hal ini adalah jauh lebih baik daripada tidak memiliki siapa-siapa untuk diajak ngobrol. Dari semua yang mengalami, para lansia lah yang mengalami tekanan paling berat dalam menghadapi kesepian. Saat anak-anak sudah mulai dewasa dan memiliki kehidupan sendiri, orang tua terkadang merasa ditinggalkan dan mulai dicekam sepi. Belum lagi saat mereka menyadari kemunduran fisiknya dan tidak bisa lagi mengikuti laju perubahan disekelilingnya, perasaan terisolasi akan menambah beban diri. Dekat dengan Tuhan adalah salah satu kiat saat memasuki masa lanjut usia. Saat semua meninggalkan kita, hanya Tuhan yang peduli dan menemani kesendirian kita. Jadi, betapa pentingnya membangun hubungan kita denganNya, karena hanya Tuhan lah yang bisa kita andalkan saat semua meninggalkan kita.
Dengan menyadari bahwa kita nantinya akan menjadi tua dan mengalami hal serupa, kita seharusnya lebih mawas dan care terhadap orang tua kita. Meluangkan waktu menjenguk dan berbagi dengan orang tua dapat melegakan dan membahagiakan mereka, sekaligus memperkaya hidup kita. Kita harus melakukannya dengan tulus. Bisa dibayangkan jika kita yang nantinya menjadi tua dan sepi, bagaimana rasanya dikunjungi oleh orang yang kita kasihi? Meski masih blur, at least saya kebayang bagaimana rasanya.
[bersambung: Mengenal work-related stressor]
